Pengakaderan Kelompok Teror Dikalangan Pemuda

Oleh Nurul Khawari
Litbang DPD KNPI Solo

Fundamentalisme agama, telah menjadi bayangan dan mimpi buruk dari pluralisme dan toleransi. Ironisnya fundamentalisme adalah sisi lain dari wajah agama yang lembut, rahmat dan penuh kasih. Tidak terkecuali dalam Islam, Katolik, Kristen, Yahudi ataupun agama yang lainnya.

Fundamentalisme inilah yang disinyalir menjadi bibit persemaian yang subur bagi munculnya jaringan kelompok teror. Kelompok teror selama ini mengidentifikasikan aksi dan tindakannya sebagai jihad yang merupakan manifestasi ajaran Islam. Meskipun banyak ulama Islam juga menolak bahwa aksi kelompok teror ini bukan bagian dari aksi jihad, namun aksi anarkis yang menyesatkan dan menimbulkan kerusakan.

Namun yang pasti, dari serangkain aksi dan tindakan teror yang terjadi selama ini, kerapkali mengungkap keterlibatakan pemuda dalam jaringan kelompok teror. Beberapa diantaranya adalah mahasiswa ataupun anak anak seusia SMA. Fenomena ini mengisyaratkan kepada kita bahwa kelompok teror berada diantara pemuda pemuda kita untuk melakukan pengkaderan.

Drajat Trikartono (2005), dalam buku ‘Perilaku Jihad Dikalangan Pemuda Jihad’ menjelaskan tentang fenomena keterlibatan pemuda dalam aksi yang dilakukan oleh kelompok pemuda yang diidentifikasi sebagai kelompok ‘pemuda jihad’. Kelompok pemuda jihad ini pada kenyataannya, memiliki gagasan dan keyakinan yang “cukup ramah” dengan pemahaman jihad yang dilakukan oleh kelompok teror. Meskipun tidak bisa dikatakan bahwa setiap kelompok ‘pemuda jihad’ berafiliasi dengan kelompok teror.

Pemimpin kelompok teror memang telah dilumpuhkan, namun “virus keyakinan” kelompok teror sudah menyebar. Terutama memposisikan pemuda sebagai target pengkaderan kelompok teror. Barangkali semakin meluasnya kelompok para militer yang diidentifikasi sebagai kelompok pemuda jihad perlu untuk diwaspadai sebagai titik rawan fokus pengkaderan kelompok teror.

Dalam penelitian penulis di tiga kota tentang perilaku pemuda jihad beberapa waktu yang lalu menunjukkan, pemuda yang aktiv dalam organiasi keagamaan tertentu sering lebih ramah pandangannya terhadap kelompok teror. Biasanya mereka berasal dari komunitas organisasi kecil yang tertutup. Sebaliknya pemuda yang aktiv dalam organisasi kepemudaan yang memiliki visi kebangsaan yang jelas cenderung menolak pengaruh kelompok teror dan cenderung menjauh dari karakter fundamentalisme.

Deradikalisasi Pemuda

Kecenderungan kelompok teror melakukan pengkaderan dikalangan pemuda merupakan sesuatu yang telah terbukti dan nyata adanya. Ini merupakan ancaman bagi masa depan pemuda kita yang berarti juga ancaman yang serius untuk masa depan bangsa. Barangkali tindakan deradikalisasi harus dilakukan sejak dini di kalangan pemuda.

Pemuda sendiri yang berposisi sebagai sentral persoalan dalam kasus maraknya pengkaderan yang dilakukan oleh kelompok teror harus memahami posisi bahwa dirinya dalam pusaran persoalan yang sewaktu waktu bisa membawanya kedalam masalah yang cukup rumit. Barangkali sama rumitnya dengan jebakan narkotika dan obat obatan terlarang.

Hal hal yang perlu direkomendasikan untuk pemuda kita adalah. Pertama, sebagai pemuda, penting untuk terlibat dalam setiap kegiatan dan memperhatikan fenomena sosial di sekitarnya. Dalam hal ini pemuda harus membuka pergaulan seluas luasnya. Sehingga berbagai informasi bisa masuk dan mengalami dialektika dalam diri yang berfungsi sebagai filter atas nilai nilai yang positif. Kedua, bergabung dalam organisasi merupakan keputusan yang tepat. Namun lebih baik memilih organisasi yang bersifat terbuka dan memiliki orientasi kebangsaan yang kuat merupakan pilihan bijak. Ketiga, dalam konteks untuk melakukan deradikalisasi yang mengarah pada pemahaman jihad yang salah, mereduksi faham fundamentalsime adalah langkah yang tepat. Karena Fundamentalisme merupakan akar persoalan yang mendorong munculnya kelompok pemuda jihad yang memiliki peluang lebih besar untuk mendekati kelompok teror.