Anak Muda dan Peran Sosial Masjid

Di Bulan Romadhon, kegiatan masyarakat (muslim) tersentral di masjid masjid. Di hampir semua masjid, di Bulan Romadhon frekfensi kegiatannya rata rata meningkat. Inilah salah satu pesona Romadhon, tempat tempat peribadatan, masjid dan mushola, menjadi basis pembinaan mentalitas dan ruhani bagi umat muslim. Anak anak muda, baik laki laki dan perempuan melibatkan diri secara aktif dalam setiap kegiatan keagamaan. Di beberapa desa bahkan memanfaatkan momentum romadhon untuk pembinaan kepemimpinan dan organisasi.

Menyaksikan geliat masjid, surau, moshola dan langgar di bulan romadhon, membawa kita kembali ke catatan sejarah masa lalu. Dimana sejak dulu masjid (dan pesantren) digunakan sebagai basis pembinaan generasi muda. Dimasa pergerakan bahkan masjid digunakan untuk melakukan penyusunan strategi dalam perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

Beberapa peristiwa sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesiapun memiliki keterkaitan yang erat dengan masjid. Misalnya saja dalam sejarah perang jawa. Pangeran Diponegoro ketika memimpin perang gerilya, menjadikan masjid sebagai basis pengaturan strategi perang. Beliau bergerak dari hutan ke hutan, dari desa ke desa dan selalu menjadikan masjid sebagai basis koordinasi. Sehingga Belanda membakar hampir semua masjid ditanah jawa yang dicurigai sebagai basis Pangeran Diponegoro dalam mengatur strategi perangnya.

Dalam perang aceh, masjid juga menjadi pusat penggemblengan lasykar Aceh sebelum berangkat perang. Snouck Hurgronje, dalam bukunya The Achehnese, diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Aceh Dimata Kolonialis (1985), menyebutkan Meunasah atau surau menjadi pusat penggemblengan anak muda Aceh. Tradisi yang berlaku di masyarakat Aceh, sejak di usia belia generasi muda aceh sudah meninggalkan rumah orang tua mereka dan tinggal di Meunasah. Disanalah mereka digembleng mental dan spiritualnya. Syair hikayat perang sabil dibaca tiap malam oleh para ulama kepada pemuda pemudi aceh untuk membangun spirit melawan penjajah. Menurut Snouck, pembacaan syair tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membangun semangat jihad pejuang Aceh.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad dan para sahabatnya memfungsikan masjid sebagai pusat semua aktivitas umat muslim. Masjid bukan hanya sekedar tempat pelaksanaan ibadah ritual seperti sholat dan berdo’a saja. Tetapi lebih dari itu Masjid memiliki fungsi yang lebih luas lagi, baik sebagai tempat pendidikan (pembinaan), kegiatan ekonomi, pengembangan sosial budaya dan sebagai pusat pembentukan peradapan ummat Islam.

Masjid benar benar menjadi muara sentral umat Islam. Kedatangan Nabi Muhammad di kota Madinah (Hijrah)-pun di awali dengan membangun masjid terlebih dahulu. Masjid Nabawi ini memiliki catatan yang luar biasa terkait muamalah pejuang pejuang islam sejak zaman nabi.

Peran Sentral Masjid
Sebagai baitullah (rumah Allah), masjid adalah tempat turunnya Rahmad Allah SWT. Oleh sebab itu masjid dalam pandangan umat muslim adalah tempat paling mulia dan terbaik di permukaan bumi. Sangat perlu untuk umat muslim mereposisi peran sosial masjid. Karena dewasa ini yang kita temui masjid seakan akan dipahami semata mata sebagai tempat melakukan sholat dan ritual keagamaan saja.
Sebagai “organisasi organik” yang tumbuh secara internal, masjid menjadi simbol persatuan umat Islam. Meminjam istilah Gramschi, masjid merupakan organisasi yang bermakna organik untuk masyarakat yang disekitarnya. Yaitu organisasi yang tumbuh ditengah masyarakat, tidak berjarak dan selanjutnya berproses untuk membangun dan memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi olej masyarakatnya sendiri. Dengan demikian masjid memiliki posisi strategis, termasuk untuk melakukan pendidikan untuk pemuda pemuda Islam.

Bila tidak dikelola dengan baik, peran pendidikan pemuda dimasjid bisa diambil oleh kelopok kelopok yang justru cenderung distruktif. Hasil penelitian 
Center for Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah barangkali cukup mengejutkan dan perlu memperoleh perhatian. CSRC menyebutkan, dalam derajat yang berbeda kelompok Islam radikal telah menggunakan masjid di Solo sebagai sarana penyebaran ideologi radikalnya (Harian Republika). Seandanya temuan ini cukup akurat, artinya peran pendidikan pemuda masjid kita telah dicuri oleh  kelompok yang tidak semestinya.


Untuk pengelolaan masjid, departemen agama sesungguhnya telah memiliki organisasi yang memang didesain untuk meningkatkan peranan dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan sarana pembinan umat islam. Namun nampaknya organisasi ini tidak efektif di semua masjid yang ada. Barangkali disinilah peran pemuda yang aktiv di “masjid organik” untuk mengambil peran lebih luas. Mereka harus didorong dan difasilitasi untuk menjalankan peran sosial masjid. Terutama peran sosial masjid dalam proses pendidikan dan penguatan pemuda. 

Oleh Nurul Khawari
Litbang DPD KNPI Kota Solo